InfoSingkawang- Aksi penyelundupan besar-besaran telur penyu lintas negara kembali berhasil digagalkan oleh aparat pengawasan laut Indonesia. Kali ini, upaya penyelundupan sebanyak lebih dari 96 ribu telur penyu berhasil dicegah di Pelabuhan Sintete, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Tak hanya mencegah kerugian ekonomi, penggagalan ini juga menyelamatkan potensi kerusakan ekologis senilai Rp9,6 miliar.

Baca Juga : Gerald Vanenburg: Kemenangan Filipina atas Malaysia Bukan Kejutan!
Aksi Jaringan Internasional Digagalkan di Kalbar
Dua orang pelaku penyelundupan lintas negara yang diduga sebagai bagian dari sindikat perdagangan ilegal satwa dilindungi, berhasil ditangkap. Mereka adalah SD (pria) dan MU (wanita), yang ditangkap di kawasan Singkawang, Kalimantan Barat, pada Sabtu siang (19/7), setelah sebelumnya menjadi target intelijen.
“Didukung oleh informasi intelijen yang kami peroleh, kami berhasil mengamankan dua terduga pelaku di Singkawang. Ini adalah upaya nyata kami dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut Indonesia,” ujar Pung Nugroho Saksono, Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), dalam keterangannya dari Jakarta, Minggu (20/7).
96.050 Telur Penyu Berasal dari Tambelan, Kepulauan Riau
Dalam pemeriksaan awal, MU mengaku bahwa telur-telur penyu tersebut berasal dari Tambelan, Kepulauan Riau. Ia berperan sebagai pengepul sekaligus pengirim yang telah menjalankan aksinya sejak 2024. Pada awalnya telur dikirim ke Batam, lalu pada tahun ini pengiriman diarahkan ke Sintete, Sambas—sebuah jalur yang diduga kuat akan diteruskan ke Serawak, Malaysia.
Nilai Pasar Miliaran Rupiah, Tapi Nilai Ekologis Lebih Besar
Telur-telur penyu itu sangat diminati di pasar gelap luar negeri, terutama di Malaysia. Harga satu butir telur penyu di wilayah Serawak mencapai Rp12.000, yang berarti total nilai jual dari 96.050 butir mencapai Rp1,15 miliar. Namun, menurut Dirjen Pung, dampak terbesar bukan pada nilai ekonomi pasar, melainkan kerusakan ekologis yang ditimbulkan.
“Jika dihitung dari sisi nilai ekologis, potensi ekowisata, hingga biaya konservasi untuk menggantikan penyu-penyu yang seharusnya lahir dari telur itu, maka kerugian negara yang berhasil dicegah mencapai Rp9,6 miliar,” jelasnya.
Telur penyu bukan hanya bernilai dari sisi komersial. Penyu merupakan satwa yang memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut, seperti mengontrol populasi ubur-ubur dan menjaga kualitas lamun. Menghancurkan satu generasi penyu berarti memutus rantai ekosistem dalam jangka panjang.
Rantai Perdagangan Ilegal Mulai Terungkap
Dari hasil pemeriksaan mendalam, diketahui bahwa telur-telur tersebut rencananya dijual oleh MU kepada dua orang lainnya, yaitu BB di Singkawang dan IEP di Pemangkat. Nama IEP kemudian menjadi sorotan karena ternyata telah ditangkap oleh pihak otoritas Malaysia dalam kasus perdagangan ilegal telur penyu di Serawak.
Tim PSDKP Pontianak segera melakukan koordinasi intensif dengan Polis Diraja Malaysia. Dari hasil kolaborasi tersebut, diketahui bahwa IEP adalah pembeli langsung dari telur-telur yang diselundupkan oleh MU. Telur-telur itu kemudian masuk ke pasar gelap Malaysia, yang memiliki permintaan tinggi terhadap telur penyu untuk konsumsi dan ritual adat tertentu.
Ancaman terhadap Konservasi Penyu di Indonesia
Penyu termasuk dalam satwa yang dilindungi secara nasional maupun internasional. Di Indonesia, penyu-penyu seperti penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik, dan penyu lekang semuanya memiliki status dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan.
Setiap tahunnya, Indonesia kehilangan ribuan telur penyu akibat aktivitas ilegal seperti perburuan dan penyelundupan. Jika tren ini terus berlangsung, maka populasi penyu Indonesia—yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia—terancam punah.
“Penangkapan pelaku ini adalah sinyal bahwa kami tidak main-main. Perdagangan ilegal satwa dilindungi adalah kejahatan serius,” tegas Pung.
Langkah Lanjut: Pengembangan Kasus dan Penindakan Lintas Negara
Kasus ini belum berhenti pada penangkapan dua pelaku. Tim penyidik masih terus mengembangkan jalur distribusi dan mencari tahu sejauh mana jaringan ini beroperasi. Ada dugaan kuat bahwa sindikat ini memiliki keterkaitan dengan jaringan lintas negara yang lebih besar.
Sementara itu, KKP akan terus berkoordinasi dengan aparat hukum Malaysia, serta dengan lembaga internasional seperti Interpol Wildlife Crime Unit, untuk mengungkap jalur peredaran global dan membongkar pelaku utama yang berada di balik layar.
Kesimpulan: Keberhasilan Besar untuk Lingkungan dan Hukum
Penggagalan penyelundupan 96 ribu telur penyu ini adalah kemenangan besar bagi konservasi lingkungan laut Indonesia. Selain menyelamatkan populasi penyu, aksi ini juga mencegah kerugian ekologis yang tak ternilai dalam jangka panjang.














