Singkawang, Kota Seribu Kelenteng yang Jadi Laboratorium Toleransi Dunia
Info Singkawang- Singkawang, Kalimantan Barat, tidak hanya terkenal dengan sebutan Kota Seribu Kelenteng, tetapi juga telah menjelma menjadi laboratorium hidup toleransi yang mendunia. Di kota ini, harmoni antara umat beragama bukan sekadar slogan, melainkan tradisi yang diwariskan turun-temurun sejak ratusan tahun lalu.
“Dulu orang datang ke Singkawang hanya ingin melihat kecantikan amoy. Sekarang, banyak yang datang untuk belajar bagaimana merawat toleransi,” kata Yulianus, Asisten Pemerintahan Kota Singkawang, saat menyambut rombongan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kalimantan Selatan di Aula Walikota Singkawang, Jumat (22/8/2025).
Rombongan tersebut juga dihadiri Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Kalimantan Selatan, Heriansyah, beserta jajaran staf, serta perwakilan Kemenag. Kehadiran mereka menambah daftar panjang daerah, instansi, hingga negara yang datang untuk belajar langsung bagaimana Singkawang menjaga kerukunan. Hingga Agustus tahun ini saja, sudah 78 rombongan dari berbagai daerah melakukan kunjungan studi toleransi ke kota ini.

Baca Juga : Paskibraka Singkawang 2025 Diganjar Jamuan Istimewa dari Wali Kota
Harmoni dalam Perbedaan
Sebutan Kota Seribu Kelenteng bukan tanpa alasan. Hampir di setiap sudut Singkawang berdiri megah rumah ibadah umat Tionghoa yang usianya mencapai ratusan tahun. Menariknya, kelenteng-kelenteng itu hidup berdampingan dengan masjid dan gereja tua yang letaknya hanya sepelemparan batu.
“Inilah simbol bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi justru menjadi kekuatan untuk membangun kota,” jelas Muhlis, Kepala Kantor Kemenag Kota Singkawang.
Bukti nyata toleransi itu bisa dilihat dalam berbagai perayaan besar. Misalnya, ketika Festival Cap Go Meh bertepatan dengan hari Jumat, panitia dengan kesadaran penuh menghentikan acara saat azan berkumandang. Tidak ada instruksi resmi, semua dilakukan dengan kesadaran bersama. Sebaliknya, saat perayaan Imlek, banyak umat Muslim juga mengenakan pakaian khas Tionghoa untuk ikut meramaikan suasana.
“Di kota lain, pendirian rumah ibadah kerap menimbulkan polemik. Di Singkawang, justru berbeda. Kalau warga setuju, rumah ibadah akan berdiri tanpa ada penolakan,” tambah Akbar, Kepala Kesbangpol Singkawang.
Kota dengan Wajah Toleransi Sejati
Ketua FKUB Kalimantan Selatan, Ilham Masykuri Hamdie, mengaku terkesan dengan Singkawang yang dianggap sebagai kota tak tertandingi soal toleransi. Menurutnya, Singkawang bisa menjadi rujukan dunia tentang bagaimana masyarakat yang beragam suku, etnis, dan agama hidup damai tanpa konflik berarti.
Heriansyah, Kaban Kesbangpol Kalimantan Selatan, juga menuturkan kesan serupa. Ia bahkan sengaja berkeliling menggunakan sepeda untuk melihat langsung kehidupan masyarakat di pasar. “Pasar adalah cermin kota. Jika pasar rapi, bersih, dan penuh kerukunan, maka kota itu hebat. Dan Singkawang membuktikannya. Pasarnya bukan hanya tertata, tapi juga indah dengan latar kelenteng, masjid, dan gereja yang berdiri berdekatan,” ucapnya kagum.
Tidak heran jika Walikota Singkawang kerap diundang menjadi pembicara di forum internasional mengenai kerukunan. Dunia ingin belajar, bagaimana kota kecil di Kalimantan ini bisa menjadi simbol keberagaman yang damai.
Kuliner dan Budaya, Wajah Lain Singkawang
Selain dikenal karena kerukunan, Singkawang juga menyuguhkan kekayaan wisata budaya dan kuliner. Salah satunya adalah Batu Meteor, peninggalan purbakala yang hingga kini masih menyimpan misteri asal-usulnya.
Bagi pecinta kuliner, Singkawang menawarkan berbagai hidangan khas lintas etnis. Ada bubur gunting khas Tionghoa yang gurih, sate khas Melayu, hingga aneka jajanan Dayak. Semua disajikan oleh masyarakat dari beragam suku yang hidup rukun di kota ini.
“Di meja makan Singkawang, Anda bisa mencicipi harmoni. Karena setiap suku membawa cita rasa khasnya, tapi berpadu menjadi satu identitas kota,” kata Yulianus dengan bangga.
Demokrasi yang Matang
Menariknya lagi, praktik toleransi di Singkawang tercermin juga dalam politik. Menurut As’ari, Ketua FKUB Singkawang, warga tidak pernah menjadikan agama atau etnis sebagai dasar memilih pemimpin.
“Kalau calon pemimpin itu punya komitmen kuat untuk membangun kota, meski ia berasal dari kelompok minoritas, tetap akan dipilih. Ini bukti bahwa masyarakat Singkawang sudah dewasa dalam berdemokrasi,” jelasnya.
Inspirasi bagi Indonesia dan Dunia
Dialog rombongan FKUB Kalimantan Selatan dengan para tokoh Singkawang berlangsung lebih dari dua jam. Banyak pengetahuan dan praktik baik yang mereka catat, mulai dari cara mendokumentasikan sejarah toleransi hingga strategi merawat kerukunan lintas generasi.
Sayangnya, kunjungan harus segera berakhir karena rombongan harus menempuh perjalanan darat kembali ke Pontianak selama 4-5 jam. Namun, semangat dan inspirasi dari Singkawang dibawa pulang sebagai bekal berharga.
“Merawat toleransi tidak bisa hanya dilakukan FKUB, tetapi harus melibatkan semua elemen—pemerintah, tokoh agama, komunitas seni, hingga masyarakat akar rumput,” ujar Wahyuddin, salah satu peserta rombongan.
Singkawang pun layak disebut sebagai kota yang bukan hanya indah secara budaya, tetapi juga kaya secara batiniah, karena menjadikan keberagaman sebagai kekuatan untuk hidup berdampingan dalam damai.














