Breaking News
Kumpulan informasi aktual seputar peristiwa penting yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia, meliputi isu politik, kebijakan pemerintah, bencana, dan dinamika sosial masyarakat.
BRIMO BRIMO BRIMO BRIMO

Air Bersih Jadi Masalah Tahunan, LSM Minta Solusi Permanen

banner 800x150

Krisis Air Bersih di Singkawang: LSM Desak Pemkot dan Perumda AMGP Cari Solusi Permanen

Info Singkawang- Kota Singkawang kembali menghadapi persoalan klasik yang sudah terjadi setiap tahun, terutama saat musim kemarau tiba—krisis air bersih. Ribuan warga mengeluh sulitnya mendapatkan air layak konsumsi, sementara kapasitas sistem pengolahan air yang tersedia dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara optimal.

Menanggapi kondisi ini, Muhammad Abdurrahman, Koordinator Aliansi LSM Perintis Kota Singkawang, menyerukan agar Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang bersama Perumda Air Minum Gunung Poteng (AMGP) segera mengambil langkah konkret untuk meningkatkan kapasitas dan jaringan Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang ada saat ini.

“Krisis air bersih ini bukan hal baru. Setiap tahun selalu terjadi dan menjadi beban masyarakat, khususnya saat kemarau. Kami minta ini jadi perhatian serius bagi pemerintah dan Perumda AMGP,” ujar Rahman di Singkawang, Rabu.

Air Bersih Jadi Masalah Tahunan, LSM Minta Solusi Permanen
Air Bersih Jadi Masalah Tahunan, LSM Minta Solusi Permanen

Baca Juga : Distribusi LPG Jadi Sorotan Utama Rakercab Hiswana Migas di Singkawang

Temui Manajemen AMGP, LSM Cari Akar Masalah

Untuk menyikapi kondisi tersebut, Aliansi LSM Perintis Singkawang telah melakukan pertemuan langsung dengan manajemen Perumda AMGP. Tujuannya adalah untuk menggali lebih dalam penyebab utama krisis air dan menemukan solusi yang berkelanjutan.

Dari hasil diskusi dan kajian yang dilakukan, ditemukan bahwa persoalan utama terletak pada keterbatasan pasokan air baku, yang secara langsung mempengaruhi kinerja sistem IPA milik Perumda AMGP. Berdasarkan data terbaru, total kapasitas IPA yang dimiliki saat ini adalah sekitar 340 liter per detik, namun hanya mampu memproduksi air bersih dengan efisiensi 75-78 persen di musim hujan (sekitar 255-265 liter per detik).

Ironisnya, saat musim kemarau tiba, efisiensi tersebut menurun drastis hingga hanya sekitar 150-160 liter per detik. Angka ini sangat jauh dari kebutuhan riil masyarakat Kota Singkawang.

“Dengan kapasitas sekarang, AMGP hanya mampu melayani sekitar 30 persen dari total kebutuhan air bersih. Ini jelas tidak cukup untuk melayani 26 ribu pelanggan aktif di seluruh kota,” tambah Rahman.

Sumber Air Bergantung pada Hujan, Solusi Jangka Panjang Dibutuhkan

Krisis semakin diperparah oleh ketergantungan AMGP pada sumber air baku yang sangat bergantung pada curah hujan, seperti Sungai Seluang dan Eria. Ketika kemarau panjang melanda, suplai air dari sungai-sungai tersebut menurun drastis atau bahkan terhenti.

Sementara itu, kebutuhan ideal untuk memberikan layanan air bersih kepada 60 persen penduduk Singkawang—angka yang dianggap realistis—membutuhkan kapasitas IPA sebesar 599,52 liter per detik. Artinya, Perumda AMGP harus melakukan loncatan besar dari kapasitas produksi saat ini.

“Jika ingin menyelesaikan masalah ini secara permanen, maka AMGP harus meningkatkan kapasitas produksinya dari 265 liter per detik menjadi hampir 600 liter per detik,” jelasnya.

Rencana Strategis: Tambah Sumber dan Infrastruktur Air Baku

Beberapa solusi teknis pun diusulkan dalam upaya menambah kapasitas dan memperbaiki sistem pengolahan air yang ada. Di antaranya:

  • Pembangunan boster air baku untuk meningkatkan debit air masuk ke IPA eksisting.

  • Pengambilan air dari Hangmui Irigasi sebagai alternatif sumber baru.

  • Pengembangan sumber air baku Sungai Sedau, meski terkontaminasi air laut, dinilai tetap bisa diolah dengan teknologi filtrasi modern.

  • Peningkatan kapasitas intake, sistem transmisi, reservoar, dan jaringan distribusi.

Namun untuk mewujudkan semua itu, tantangan terbesar ada pada pembiayaan. Estimasi biaya pembangunan seluruh infrastruktur yang dibutuhkan diperkirakan mencapai Rp350 miliar.

Pentingnya Dukungan Pemerintah dan Skema Pembiayaan Alternatif

Abdurrahman menegaskan, air bersih adalah kebutuhan dasar masyarakat yang tidak bisa ditawar-tawar. Karena itu, pemerintah—baik eksekutif maupun legislatif—harus menunjukkan komitmen serius dalam menyelesaikan masalah ini.

“Pemerintah bisa menggunakan skema pembiayaan melalui APBN, Pokir anggota legislatif, atau model Government to Business (G to B), di mana swasta menyediakan layanan yang dibutuhkan pemerintah,” jelasnya.

Dampak Positif Jika Masalah Teratasi

Jika rencana ini berhasil dilaksanakan, bukan hanya persoalan air bersih yang terselesaikan. Kota Singkawang juga akan meraih sejumlah manfaat tambahan, di antaranya:

  • Tingkat layanan Perumda AMGP meningkat ke 60 persen.

  • Pendapatan Asli Daerah (PAD) meningkat dari dividen Perumda.

  • Perumda AMGP naik status menjadi tipe A, yang akan dikelola oleh tiga direksi (utama, umum, teknis).

  • Kualitas hidup masyarakat meningkat, dengan akses air bersih yang lebih merata dan stabil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *