Breaking News
Kumpulan informasi aktual seputar peristiwa penting yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia, meliputi isu politik, kebijakan pemerintah, bencana, dan dinamika sosial masyarakat.
BRIMO BRIMO BRIMO BRIMO

Naftali Bennett: Netanyahu Sudah Terlalu Lama Berkuasa, Israel Butuh Kepemimpinan Baru

banner 800x150

Info Singkawang. Mantan Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, secara terbuka menyerukan pengunduran diri Benjamin Netanyahu dari jabatannya sebagai perdana menteri. Pernyataan itu disampaikan Bennett dalam wawancara eksklusif di Channel 12 pada Sabtu (28/6/2025), yang memicu gelombang diskusi di tengah masyarakat Israel.

7 Fakta dan Kontroversi Naftali Bennett, PM Baru Israel Pengganti Benjamin  Netanyahu
Naftali Bennett Desak Netanyahu Mundur, Sebut Kepemimpinan Sebabkan Perpecahan

“Dia sudah memimpin selama 20 tahun, ini terlalu lama dan tidak sehat untuk demokrasi,” ujar Bennett. Ia menilai kepemimpinan Netanyahu telah memperburuk polarisasi dan menjadi sumber perpecahan sosial di Israel.

Baca Juga : Perang Berakhir, Iran Makin Gencar Buru “Musuh dalam Selimut”

Seruan Bennett datang di tengah meningkatnya tekanan terhadap Netanyahu terkait penanganan konflik Gaza dan kebijakan domestik. Meski masih memiliki basis pendukung yang loyal, Netanyahu menghadapi unjuk rasa besar-besaran yang menuntut pengunduran dirinya sejak eskalasi konflik dengan Hamas pada Oktober 2023.

Naftali Bennett sendiri merupakan tokoh sayap kanan yang sempat menggantikan Netanyahu pada 2021 dalam koalisi pemerintahan lintas faksi. Koalisi itu berhasil mengakhiri 12 tahun kekuasaan beruntun Netanyahu, namun hanya bertahan setahun sebelum bubar karena konflik internal. Setelah pemilu ulang, Netanyahu kembali berkuasa dengan dukungan partai-partai ultranasionalis dan agama.

Dalam wawancara itu, Bennett tidak secara eksplisit menyatakan niatnya maju dalam pemilu berikutnya. Namun, analis politik menilai sikapnya itu sebagai isyarat persiapan menuju kontestasi. Sejumlah survei menunjukkan Bennett masih memiliki dukungan untuk menantang Netanyahu, walau belum ada jadwal resmi pemilu hingga 2026.

Eks PM Israel Singgung Kepemimpinan 20 Tahun

Bennett juga menyoroti konflik regional, khususnya ketegangan dengan Iran. Ia mengklaim bahwa pemerintahan singkatnya telah meletakkan dasar bagi serangan militer Israel ke situs-situs strategis Iran awal bulan ini. “Itu keputusan tepat dan krusial. Tanpa fondasi dari masa pemerintahan saya, serangan itu tidak akan mungkin dilakukan,” katanya.

Soal konflik di Gaza, Bennett menyampaikan apresiasi terhadap militer Israel tetapi mengecam manajemen politik Netanyahu yang dinilainya kacau. “Militer kita luar biasa, tetapi kepemimpinan politik saat ini adalah bencana,” tegasnya.

Ia pun mendesak agar pemerintah segera memprioritaskan kesepakatan pembebasan sandera daripada ambisi militer berlarut-larut. “Bebaskan para sandera sekarang, dan serahkan urusan eliminasi Hamas kepada pemerintahan berikutnya,” tutupnya.

Pernyataan ini makin memperkuat narasi bahwa krisis politik dalam negeri Israel tengah memanas, dengan masa depan Netanyahu kini kembali berada di bawah sorotan tajam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *